Jumat, 06 Maret 2026

Hasil Isbat: 1 Ramadan 1447 H, Jatuh Pada Kamis, 19 Februari 2026.

Administrator - Selasa, 17 Februari 2026 21:16 WIB
Hasil Isbat: 1 Ramadan 1447 H, Jatuh Pada Kamis, 19 Februari 2026.

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sidang isbat dalam rangka menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah. Hasilnya memutuskan bahwa puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

"Disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Demikian hasil Sidang Isbat yang baru kita laksanakan," tutur Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Diketahui, Kementerian Agama menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyat dalam penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk memprediksi posisi bulan secara matematis, berfungsi sebagai dasar perhitungan ilmiah tentang posisi hilal.

Baca Juga:

Sementara itu, metode rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam. Pendekatan ini bertujuan untuk memadukan perhitungan astronomi dan pengamatan nyata, serta menjaga persatuan umat Islam di Indonesia.

Kriteria visibilitas hilal yang digunakan adalah kriteria MABIMS, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Jika hilal belum memenuhi kriteria ini pada saat pemantauan, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari.

Berbeda dengan Muhammadiyah

Meskipun pemerintah menetapkan awal Ramadan melalui Sidang Isbat, potensi perbedaan dengan organisasi Islam lain seperti Muhammadiyah telah muncul.

Muhammadiyah sendiri telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki.

Sidang Isbat ini dihadiri oleh sejumlah pihak penting, termasuk perwakilan organisasi masyarakat Islam, perwakilan kedutaan besar negara-negara Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta ahli falak.

Selain itu, Komisi VIII DPR, perwakilan Mahkamah Agung (MA), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha ITB, dan Planetarium Jakarta juga akan turut serta. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghasilkan keputusan yang komprehensif dan akuntabel.

Sidang Isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H akan melalui tiga tahapan utama yang telah menjadi standar dalam penyelenggaraan sidang isbat.

Tahap Sidang Isbat

Tahap pertama adalah pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab) yang disampaikan oleh tim ahli hisab rukyat Kemenag. Data ini menjadi dasar ilmiah awal sebelum dilakukan observasi langsung.

Tahap kedua adalah verifikasi hasil rukyatul hilal, yaitu pemantauan hilal secara langsung. Pemantauan ini akan dilakukan di 37 hingga 96 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Laporan dari titik-titik pengamatan ini akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam sidang.

Tahap terakhir adalah musyawarah dan pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh pihak yang hadir dalam sidang. Hasil dari musyawarah ini kemudian akan diumumkan secara resmi kepada publik melalui konferensi pers. Proses ini memastikan transparansi dan keabsahan keputusan yang diambil.

Sumber:Liputan6

Editor
: Administrator
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
PDIP Terbitkan Surat Edaran Larangan Kader Kelola dan Bisnis MBG
Bupati Kasmarni Hadiri Rakor Pemerintah Pusat dan Daerah, Presiden Prabowo Tekankan Kerja Nyata dan Keberpihakan Pada Rakyat
Polri Apresiasi Dukungan Agar Polri Tetap di Bawah Presiden
Tolak Wacana Polri di Bawah Kementrian, DPC GMNI Bengkalis: Tetap di Bawah Presiden sebagai Alat Negara Bukan Alat Kekuasaan
Daftar 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya karena Bencana Sumatera
Pesan Menteri Agama, Nasaruddin: Isra Mikraj Momentum Pertobatan Ekologis, Berhenti Merusak Alam
 
Komentar
 
Berita Terbaru