Rabu, 08 Juli 2026

Anak Petani dari Padang Lawas Jadi Juara Dakwah Internasional: Dari Desa Rao-Rao Dolok ke Panggung Dunia

Syauqi Ammar Mahmuda - Rabu, 08 Oktober 2025 17:58 WIB
Anak Petani dari Padang Lawas Jadi Juara Dakwah Internasional: Dari Desa Rao-Rao Dolok ke Panggung Dunia
ist
Anak Petani dari Padang Lawas Jadi Juara Dakwah Internasional

Di tengah derasnya arus globalisasi, muncul sosok muda inspiratif yang berhasil mengharumkan nama daerahnya hingga ke tingkat internasional.

Dia adalah Mhd. Taufik Hasani Lubis (21), seorang dai muda asal Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, yang kini menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang.

Taufik dikenal luas karena kemampuannya berdakwah dalam tiga bahasa — Arab, Inggris, dan Indonesia — serta karena hafal Al-Qur'an. Keahliannya ini menjadikannya simbol generasi muda berprestasi dari pelosok daerah yang mampu bersaing di panggung global.

Dari Ladang ke Panggung Dunia

Dalam wawancara bersama media, Taufik mengenang perjuangannya dari desa kecil Rao-Rao Dolok, Kecamatan Sosa, hingga kini dikenal luas di dunia dakwah.

"Saya lahir dari keluarga petani sederhana. Ayah saya, Syahiddin Lubis, dan ibu saya, Syamsidar Nasution, selalu menanamkan nilai kerja keras dan kesabaran. Dari merekalah saya belajar untuk tidak menyerah meski berasal dari desa kecil," ujar Taufik dengan nada haru, Selasa (8/10/2025).

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN 0404 Janji Raja, dilanjutkan ke MTs Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Sibuhuan, lalu ke MA Pondok Pesantren Modern Baharuddin Tapanuli Selatan.

Semangatnya menimba ilmu membawanya merantau ke Semarang untuk memperdalam komunikasi dan dakwah Islam di UIN Walisongo, salah satu kampus Islam ternama di Indonesia.

"Awalnya saya hanya ingin bisa berdakwah di kampung sendiri. Tapi Allah bukakan jalan yang lebih luas. Dari lomba ke lomba, saya belajar bahwa dakwah bukan sekadar berbicara, tapi menginspirasi lewat akhlak dan ilmu," tuturnya.

Deretan Prestasi yang Mengharumkan Nama Padang Lawas

Dalam usianya yang baru 21 tahun, Taufik telah menorehkan sederet prestasi gemilang di bidang dakwah, pidato, dan tahfidz Al-Qur'an — baik tingkat nasional maupun internasional.

Berikut beberapa pencapaian membanggakannya:

Juara 3 Lomba Kultum Internasional – AFWAJA Center Mesir (2025)

Juara 2 Lomba Dakwah Nasional – HMI Korkom UIN Walisongo (2025)

Juara 3 Video Dakwah Nasional – Universitas Brawijaya Malang (2024)

Juara 2 Pidato 3 Bahasa Nasional – STAI Syubbanul Wathon (2025)

Juara 1 Khitobah Bahasa Arab – UIN Sunan Kudus (2025)

Juara 3 Tahfidz Qur'an Jateng-DIY – UKM JHQ UIN Walisongo (2024)

Juara Favorit Dakwah Nasional – Universitas Jember (2024)

Juara 3 Pidato Bahasa Indonesia Nasional – UNESA (2025)

Juara 2 Tahfidz Nasional – IIQ Sunan Pandanaran (2025)

Juara 1 Dai Santri Nasional – Pesantren Ushuluddin Lampung (2025)

Juara 3 Khitobah Bahasa Arab Nasional – UIN Palopo (2025)

Harapan 1 Hifdzil Qur'an 5 Juz Nasional – Universitas Negeri Semarang (2023)

Setiap penghargaan, bagi Taufik, bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi amanah besar untuk terus menebar nilai-nilai Islam yang damai dan inspiratif.

"Saya ingin anak-anak muda tahu bahwa anak desa pun bisa berprestasi di panggung nasional dan internasional. Kuncinya cuma satu: tekun, sabar, dan jangan pernah berhenti berdoa," ujarnya mantap.

Mimpi Besar untuk Dai Muda Sumatera Utara

Meski disibukkan dengan kuliah dan kegiatan dakwah, Taufik tetap aktif mengisi ceramah di berbagai masjid, kampus, dan forum mahasiswa. Ia juga rutin menjadi narasumber dalam kegiatan kajian lintas daerah serta pembinaan remaja Islam.

Ke depan, Taufik memiliki cita-cita besar: mendirikan lembaga pelatihan dai muda di Sumatera Utara, agar lebih banyak generasi dari pelosok yang bisa belajar dan berdakwah seperti dirinya.

"Jangan takut bermimpi besar. Saya lahir dari tanah, dari ladang dan sawah. Tapi Allah buktikan, dari tanah pun bisa tumbuh orang hebat, asal disirami doa, ilmu, dan kerja keras," tuturnya penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya dakwah yang moderat, kreatif, dan sesuai perkembangan zaman agar bisa diterima di semua kalangan, terutama di era digital saat ini.

"Dakwah hari ini harus menyesuaikan zaman. Bukan hanya di mimbar, tapi juga lewat media sosial, video, dan konten positif. Anak muda harus mewarnai ruang digital dengan nilai-nilai Islam yang sejuk," tambahnya.

SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
 
Komentar
 
Berita Terbaru