Rabu, 10 Juni 2026

Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Melemah, Pasar Tunggu Keputusan Anggaran AS

Administrator - Rabu, 01 Oktober 2025 09:34 WIB
Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Melemah, Pasar Tunggu Keputusan Anggaran AS
net
Ilustrasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak melemah pada kisaran Rp16.660—Rp16.710 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (1/10).

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan Selasa (30/9), rupiah justru sempat menguat tipis 0,09% menjadi Rp16.665 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,10% ke level 97,80.

Pergerakan Mata Uang Asia

Mata uang Asia ditutup bervariasi. Yen Jepang naik 0,38%, dolar Hong Kong menguat 0,04%, dolar Singapura naik 0,02%. Sebaliknya, dolar Taiwan turun 0,07% dan won Korea Selatan melemah 0,17%.

Baca Juga:
Peso Filipina juga turun 0,12%, rupee India melemah 0,05%, sementara yuan China justru naik 0,02%. Ringgit Malaysia menguat 0,18%, sedangkan baht Thailand turun 0,38%.

Sentimen Global: Ancaman Shutdown AS

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, sentimen utama datang dari dinamika politik di Amerika Serikat. Parlemen AS memiliki tenggat hingga tengah malam 30 September 2025 untuk mengesahkan RUU anggaran demi mencegah penutupan ratusan lembaga federal.

RUU anggaran yang didukung Partai Republik memang sudah lolos di Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi kini menghadapi perlawanan di Senat. Bila penutupan (shutdown) terjadi, aktivitas ekonomi AS berpotensi terganggu dan menimbulkan risiko perlambatan pertumbuhan.

Penutupan ini juga bisa menunda publikasi data ketenagakerjaan nonfarm payrolls bulan September, yang semula dijadwalkan rilis Jumat mendatang. Gedung Putih bahkan memperingatkan ribuan pegawai pemerintah berpotensi kehilangan pekerjaan jika shutdown benar-benar terjadi.

Proyeksi ADB: Pertumbuhan Indonesia Direvisi

Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 dari 5% (proyeksi April) menjadi 4,9% pada laporan September.

Revisi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian perdagangan global, terutama kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang memberi tekanan pada perekonomian negara berkembang di Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.

Untuk 2026, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.

Inflasi Lebih Terkendali

Selain itu, ADB juga menurunkan proyeksi inflasi Indonesia tahun 2025 dari 2% menjadi 1,7%, sedangkan inflasi 2026 tetap diperkirakan berada di level 2%.

Angka-angka tersebut masih lebih rendah dibanding asumsi yang ditetapkan pemerintah Indonesia dalam APBN. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2% pada 2025 dan 5,4% pada 2026.

SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
IHSG Berpeluang Tembus 8.000, Cermati Saham ADRO, RAJA & TLKM Hari Ini
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 27 Agustus 2025
 
Komentar
 
Berita Terbaru