Jumat, 24 April 2026

Tega! Pria di Tapsel Banting Anak Tiri hingga Tewas karena Sering Menangis

Administrator - Minggu, 07 September 2025 19:06 WIB
Tega! Pria di Tapsel Banting Anak Tiri hingga Tewas karena Sering Menangis
net
Ilustrasi.

metrosatu.com-Peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Seorang pria berinisial SBP (48) tega menganiaya anak tirinya, MAG (3), hingga meninggal dunia. Aksi keji itu dilatarbelakangi rasa kesal pelaku karena korban kerap menangis.

"Pelaku merupakan ayah sambung korban. Korban meninggal dunia setelah mengalami serangkaian tindak kekerasan yang diduga dilakukan oleh SBP," kata Kasi Humas Polres Tapsel, Ipda Amalisa Nofriyanti Siregar, Minggu (7/9/2025).

Kronologi Kejadian

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (5/9), di Dusun Rispa, Desa Pargarutan Jae, Kecamatan Angkola Timur. Saat itu, ibu korban meninggalkan rumah sebentar untuk mengisi daya ponsel ke kampung sebelah. Rumah mereka yang berada di tengah kebun memang tidak memiliki listrik.

MAG yang meminta ikut dilarang, hingga akhirnya menangis. Pelaku yang sudah emosi kemudian melampiaskan kekesalannya.

"Terduga pelaku mengangkat dan membanting korban ke tanah satu kali. Saat korban masih menangis, pelaku menampar kepala korban, lalu mendorongnya hingga terjatuh," jelas Amalisa.

Tidak berhenti di situ, pelaku kembali membanting korban berulang kali bahkan memukul kepala anak malang itu dengan sepotong kayu. Setelahnya, pelaku justru rebahan di depan rumah sambil melihat korban yang tergeletak kesakitan.

Beberapa menit kemudian, korban mengalami kejang-kejang. Panik, pelaku membawa korban ke sebuah pesantren berjarak sekitar 1 km untuk dititipkan kepada warga. Namun saat ibu korban datang menyusul, nyawa sang anak sudah tidak tertolong.

Motif dan Pengakuan Pelaku

Dari hasil penyelidikan, pelaku mengaku kesal karena korban sering menangis. Ia juga mengakui sudah beberapa kali melakukan kekerasan serupa sebelumnya.

"Motif pelaku karena merasa terganggu anak sering menangis. Terduga pelaku kini sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Amalisa.

Hasil Autopsi

Hasil autopsi menunjukkan korban mengalami luka serius, termasuk robek di bagian kepala, perdarahan pada tengkorak, serta trauma tumpul yang memengaruhi sistem saraf pusat.

"Penyebab kematian korban adalah mati lemas akibat trauma tumpul pada kepala," pungkas Amalisa.

Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap anak di Indonesia, sekaligus menjadi pengingat pentingnya peran lingkungan sekitar untuk lebih peduli jika ada indikasi penganiayaan dalam rumah tangga.

SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
 
Komentar
 
Berita Terbaru