Selasa, 21 April 2026

Review Film The Conjuring: Last Rites – Penutup Saga Horor yang Kehilangan Magisnya

Dao Ming - Sabtu, 06 September 2025 08:16 WIB
Review Film The Conjuring: Last Rites – Penutup Saga Horor yang Kehilangan Magisnya
net
Review Film The Conjuring

metrosatu.com- Sejak debut pada 2013, The Conjuring karya James Wan langsung menjadi ikon horor modern. Atmosfer mencekam, kisah nyata Ed dan Lorraine Warren, hingga adegan ikoniknya, membuat film ini dianggap salah satu horor terbaik dekade terakhir.

Sekuelnya, The Conjuring 2 (2016), bahkan dinilai lebih matang dengan cerita yang kuat sekaligus horor yang sulit dilupakan. Namun, kesuksesan itu justru menimbulkan beban besar bagi kelanjutan waralaba.

Kini, The Conjuring: Last Rites hadir sebagai penutup saga. Sayangnya, film ini justru mempertegas bahwa waralaba sudah kehilangan sentuhan khasnya. Hambar, mudah ditebak, dan nyaris tak meninggalkan kesan.

Plot Datar, Misteri yang Tergesa-gesa

Last Rites kembali menyoroti Ed dan Lorraine dalam penyelidikan kasus baru yang seharusnya menjadi klimaks perjalanan mereka. Alih-alih menghadirkan kisah segar, film hanya mengulang formula lama.

Alur berjalan lambat, misteri iblis yang dihadapi kurang digali, dan penyelesaiannya terasa terburu-buru. Alih-alih menutup dengan epik, akhir film justru hambar.

Jumpscare Klise dan Bisa Ditebak

Salah satu kelemahan terbesar film ini adalah penggunaan jumpscare yang monoton. Pintu terbuka lalu tertutup keras, sosok samar di layar, hingga wajah iblis yang muncul mendadak — semua terasa usang.

Alih-alih menakutkan, banyak adegan justru bisa ditebak, bahkan kadang membuat tertawa karena terlalu klise. Bagi penonton horor veteran, ini tentu mengecewakan.

Karakter Ikonik yang Dipaksakan

Kehadiran Annabelle seharusnya menjadi daya tarik, namun di Last Rites, boneka berhantu itu terasa hanya sebagai tempelan. Alih-alih menambah ketegangan, kemunculannya justru terkesan dipaksakan dan minim relevansi.

Nostalgia memang ada, tapi kehilangan esensi.

Performa Aktor, Penyelamat Satu-satunya

Jika ada alasan untuk bertahan menonton hingga akhir, itu adalah penampilan Vera Farmiga dan Patrick Wilson. Chemistry mereka sebagai Ed dan Lorraine masih kuat, menghadirkan kedalaman emosional yang menjadi jantung waralaba.

Vera khususnya mampu memadukan sisi rapuh sekaligus tangguh Lorraine, membuat penonton tetap peduli meski cerita film tidak mendukung.

Drama Keluarga: Manis atau Membosankan?

Film mencoba memberi ruang lebih pada Judy, putri keluarga Warren, untuk memperkuat sisi drama keluarga. Upaya ini berpotensi memberi lapisan emosional, tapi sayangnya terasa seperti filler yang memperlambat alur.

Bagi penonton yang datang mencari teror horor, bagian ini justru membuat film terasa bertele-tele.

SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
 
Komentar
 
Berita Terbaru