IHSG Ambruk, Rupiah Terjun Bebas

Presiden Direktur PT Syailendra Capital, Fajar Hidayat, mengatakan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup signifikan di atas 4% dalam sehari ini mencerminkan ada kepanikan sementara dari pelaku pasar.

Fajar menjelaskan penurunan 4% IHSG mencerminkan kepanikan sementara investor seiring dengan sentimen negatif di global saat ini di tengah wabah corona.

“Investor panic mode, sementara. Setiap tahun ada swing, jadi memang sejak awal tahun hingga saat ini IHSG sudah terkoreksi 16%. Dalam range 9 tahun, IHSG pernah 2013 ambles 22% [dalam kurun waktu beberapa bulan], pernah 22% di 2015 dari top to bottom, dan long the way selama 10 tahun swing atau turun 11-16%.”

Namun terjadinya swing di pasar modal biasa terjadi setiap tahun di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini, penurunan IHSG berkaitan dengan tren di bursa saham AS, Wall Street, khususnya indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang menjadi acuan global terus melorot dalam beberapa hari terakhir.

Penurunan ini seiring dengan kekhawatiran meluasnya wabah virus corona secara global. Saat ini jumlah kasus infeksi virus corona sampai Jumat pagi (28/2) sudah mencapai 83.389 kasus di lebih dari 50 negara dan menewaskan 2.858 orang.

Pagi tadi tiga indeks utama Wall Street kembali ditutup ambruk. DJIA anjlok 4,44%, S&P 500 turun 4,43% dan Nasdaq Composite melorot 4,61%.

Pada sesi I siang tadi, IHSG berhasil memangkas pelemahan tersebut dan mengakhir perdagangan di level 5.311,961, atau anjok 4,04%.

Sepanjang sesi I, nilai transaksi tercatat Rp 3,21 triliun dan asing tercatat membukukan net buy Rp 61,59 miliar.

Sebagai catatan, data BEI menunjukkan pada 3 bulan antara 20 Mei-27 Aggustus 2013 IHSG melorot hingga 23,91%.

Dia mengatakan IHSG sudah jenuh jual (oversold), tapi beberapa saham unggulan alias blue chip belum mengalami oversold.

Rupiah Anjlok ke Rp. 14.300 per Dollar AS

Nilai tukar rupiah melemah tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (28/2/2020) hingga menyentuh level terlemah sejak 15 Agustus 2019.

Rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,14% di level Rp 14.050/US$, tetapi tidak lama langsung jeblok. Pada pukul 14:28 WIB Mata Uang Garuda sudah merosot 1,92% ke level Rp 14.300/US$. Sepanjang pekan ini, rupiah sudah anjlok 3,87%.

Jika melihat lebih ke belakang, hingga hari ini rupiah sudah melemah 9 hari beruntun, dengan total pelemahan nyaris 4,68%.

Pelemahan tersebut terbilang signifikan membuat grafik rupiah (USD/IDR) meroket naik. (MS-001)

sumber: CNBC

Berita Terkait